RESENSI BUKU BERJALAN DI ATAS CAHAYA
Judul Buku : Berjalan di atas cahaya- kisah 99 cahaya
di langit Eropa
Penulis : Hanum Salsabiela Rais dkk.
Penerbit : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 224 halaman
Tahun Terbit : 2013
Buku
ini adalah salah satu buku yang beredar diantara puluhan buku yang juga
berkisah tentang Eropa. Tidak seperti buku lain, buku ini mampu memaknai Eropa
dengan sisi yang berbeda. Tidak hanya tempat–tempat eksotik, melainkan berisi
penghayatan yang dalam sehingga pembaca mampu menarik ribuan hikmah dan
pengetahuan dari kisah yang di sajikan. Di buku ini Hanum melengkapi kisah-kisahnya
bersama kedua rekannya yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Keduanya tentu
saja pernah mencicipi hidup di Benua Biru itu .
Terdapat beberapa potongan pengalaman
yang tertulis secara inspiratif dan menarik untuk dibaca. Kisah pertama dalam
buku ini menceritakan perjalanan keberangkatan Hanum bersama kedua temanya
Satrio dan Fetra . Mereka mendapat tugas dari sebuah stasiun TV swasta untuk
meliput Profil muslim di Eropa untuk sebuah acara TV pada bulan Ramadhan .
Permasalahanya adalah biaya yang
disiapkan oleh pihak pengelola stasiun TV hanya U$D 3000 untuk tiga orang
selama delapan belas hari di Eropa. Tentu saja ini menjadi masalah bagi mereka
bertiga mengingat Eropa adalah benua termahal di dunia. Hingga jalan itu
terbuka, ketika seseorang menelfonya yang dibuka dengan menyapa Hanum. “Hanum, ich
bin’s”, (Hanum ini aku). Hanum
pun langsung mengenali suara itu dialah A Man Kutzenberger, wanita 66
tahun yang dianggapnya seperti ibunya sendiri selama tiga tahun berada di Eropa
dulu, Hanum pun teringat ia akan pergi ke Eropa kemudian langsung berfikir dengan cepat dan bertanya
kepada A Man Kutzenberger “Apakah kau punya kenalan atau teman muslim?” Ia pun
menjawab “sepertinya saya tidak punya namun
cobalah tanyakan pada teman-temanmu sewaktu kau kuliah di Eropa dulu?” Tiba-Tiba
Hanum tersadar akan sesuatu, saat ia kuliah di Eropa selama tiga tahun
merupakan Investasi Sosial. Hanum segera menutup telfon dari A Man kemudian dia
menelfon teman-temanya dahulu beruntungnya, teman-temanya mau membantu sehingga
perjalanan ini akan menjadi ringan berkat bantuan teman-teman Hanum.
Kisah
selanjutnya adalah Bunda Ikoy wanita Aceh, ia seorang Karyawan di salah satu
perusahaan Jam ternama yaitu Swatch Group. Perusahaan ini merupakan satu-satunya
perusahaan jam di Swiss yang menerima karyawannya berjilbab, dan Bunda Ikoy adalah satu-satunya
karyawan mengenakan jilbab di seantero Negeri Swiss.
Selanjutnya
dalam buku berjalan di atas cahaya mengisahkan Gadis keturunan Turki berjilabab
yang jelita bernama Nur Dann, ia
berprofesi sebagai seorang Rapper baginya,
nge-rap adalah jalannya berdakwah, pekerjaan ini jarang sekali digeluti oleh
wanita namun inilah keunikanya.
Selanjutnya dalam
buku ini mengisahkan sebuah keluarga kecil muslim di Neerach
sebuah desa kecil di swiss. Di Neerach ini terdapat sebuah kedai bunga yang
menerapkan sistem kejujuran tidak ada penunggu, cara untuk membeli bunga ini
cukup mudah, yaitu tinggal pilih bunya yang disukai lalu masukkan uang tersebut
sesuai dengan harga yang tertempel ke dalam kaleng yang sudah tersedia. Tidak hanya itu di dalam kaleng tersebut
terdapat uang pecahan sebagai kembalian jika uang kembalian kurang Pembeli
tinggal menuliskan berapa kekurangan uang kembalian dan alamat pada block note
yang sudah tersedia. lalu pemilik kedai akan mengantarkan kekurangan itu sesuai
dengan alamat yang tertera di Block Note. Sungguh hebat, sistem kejujuran diaplikasikan di negara
barat.
Kisah
selanjutnya menceritakan wanita bercadar bernama Laila, sebagai pahlawan bagi
Tutie Amaliah. Serta analogi gajah terbang dari Xiao Wei yang merupakan rekan
tandem partner dengan Hanum.
Sebuah fakta
yang mengejutkan yang diangkat dari buku ini, bahwa di gerbang gereja Katedral
Palermo di Sicilia bertuliskan ayat pembukaan Al-Fatihah yang terukir dengan
indah dan penuh wibawa.
Di sana, Ivano
Meciar sang pemilik cerita terduduk menyesali kebenciannya terhadap negaranya
Sicilia dan Roger of Sicily rajanya.
Buku ini
diakhiri dengan epilog dari Hanum yang bercerita tentang pengalamannya ketika
berumrah, ketika itu Hanum sedang berada di tengah kerumunan jamaah yang sedang
thawaf, Hanum mencoba berdiri bergerak menuju Multazam, tiba-tiba melihat seorang
nenek menghembuskan nafas terakhirnya di depan Multazam. Setelah melihat
kejadian itu, Hanum ditarik oleh seseorang menjauh dari Multazam dan ia langsung di bawa bersama
teman-temannya di lantai dua. Tiba-tiba seorang perempuan datang menemuinya
sambil memberikan sebuah pena Hanum bertanya “Untuk apa?“ “to write”. Jawab seorang perempuan
itusebelum menghilang begitu saja di antara keramaian Jamaah Umrah.
Gaya bahasa yang digunakan
merupakan gaya bahasa popular dan renyah, mudah dipahami oleh
pembaca dari segala kalangan. Cerita ini sangat kaya bahasa karena menggunakan
bahasa Indonesia, Inggris, Jerman dan Spanyol. Penggunaan berbagai bahasa ini
membuat pembaca semakin mudah mengimaginasikan keadaan dan tempat yang tergambar
dalam cerita. Dengan berbagai bahasa yang dipakai, pembaca pun dapat belajar
menguasai bahasa tersebut, karena di dalamnya terdapat terjemahan bahasa
Indonesia. Bagaikan kamus berjalan. Pengalaman
inilah yang membuat tulisan menjadi menarik, inspiratif, dan menyentuh hati .
Buku ini memiliki beberapa kekurangan seperti
pada bagian pengalaman yang ditulis oleh Wardatul Ula. Ada kesan cerita yang
salah penempatan sehingga terkesan janggal dan datar. Bagian lainnya adalah
ketika teman Hanum ingin diajari syahadat namun berakhir sampai di situ saja.