Translate

Kamis, 18 September 2014

                                    RESENSI BUKU BERJALAN DI ATAS CAHAYA
Judul Buku     : Berjalan di atas cahaya- kisah 99 cahaya di langit Eropa
Penulis            : Hanum Salsabiela Rais dkk.
Penerbit           : PT.Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku     : 224 halaman
Tahun Terbit   : 2013
 
           Buku  ini adalah salah satu buku yang beredar diantara puluhan buku yang juga berkisah tentang Eropa. Tidak seperti buku lain, buku ini mampu memaknai Eropa dengan sisi yang berbeda. Tidak hanya tempat–tempat eksotik, melainkan berisi penghayatan yang dalam sehingga pembaca mampu menarik ribuan hikmah dan pengetahuan dari kisah yang di sajikan. Di buku ini Hanum melengkapi kisah-kisahnya bersama kedua rekannya yaitu Tutie Amaliah dan Wardatul Ula. Keduanya tentu saja pernah mencicipi hidup di Benua Biru itu .
          Terdapat beberapa potongan pengalaman yang tertulis secara inspiratif dan menarik untuk dibaca. Kisah pertama dalam buku ini menceritakan perjalanan keberangkatan Hanum bersama kedua temanya Satrio dan Fetra . Mereka mendapat tugas dari sebuah stasiun TV swasta untuk meliput Profil muslim di Eropa untuk sebuah acara TV pada bulan Ramadhan . Permasalahanya  adalah biaya yang disiapkan oleh pihak pengelola stasiun TV hanya U$D 3000 untuk tiga orang selama delapan belas hari di Eropa. Tentu saja ini menjadi masalah bagi mereka bertiga mengingat Eropa adalah benua termahal di dunia. Hingga jalan itu terbuka, ketika seseorang menelfonya yang dibuka dengan menyapa Hanum. “Hanum, ich bin’s”, (Hanum ini aku). Hanum  pun langsung mengenali suara itu dialah A Man Kutzenberger, wanita 66 tahun yang dianggapnya seperti ibunya sendiri selama tiga tahun berada di Eropa dulu, Hanum pun teringat ia akan pergi ke Eropa kemudian  langsung berfikir dengan cepat dan bertanya kepada A Man Kutzenberger “Apakah kau punya kenalan atau teman muslim?” Ia pun menjawab “sepertinya saya  tidak punya namun cobalah tanyakan pada teman-temanmu sewaktu kau kuliah di Eropa dulu?” Tiba-Tiba Hanum tersadar akan sesuatu, saat ia kuliah di Eropa selama tiga tahun merupakan Investasi Sosial. Hanum segera menutup telfon dari A Man kemudian dia menelfon teman-temanya dahulu beruntungnya, teman-temanya mau membantu sehingga perjalanan ini akan menjadi ringan berkat bantuan teman-teman Hanum.
Kisah selanjutnya adalah Bunda Ikoy wanita Aceh, ia seorang Karyawan di salah satu perusahaan Jam ternama yaitu Swatch Group. Perusahaan ini merupakan satu-satunya perusahaan jam di Swiss yang menerima karyawannya  berjilbab, dan Bunda Ikoy adalah satu-satunya karyawan mengenakan jilbab di seantero Negeri Swiss.
Selanjutnya dalam buku berjalan di atas cahaya mengisahkan Gadis keturunan Turki berjilabab yang jelita bernama Nur  Dann, ia berprofesi sebagai seorang Rapper  baginya, nge-rap adalah jalannya berdakwah, pekerjaan ini jarang sekali digeluti oleh wanita namun inilah keunikanya.
Selanjutnya dalam buku ini mengisahkan sebuah keluarga kecil muslim di Neerach sebuah desa kecil di swiss. Di Neerach ini terdapat sebuah kedai bunga yang menerapkan sistem kejujuran tidak ada penunggu, cara untuk membeli bunga ini cukup mudah, yaitu tinggal pilih bunya yang disukai lalu masukkan uang tersebut sesuai dengan harga yang tertempel ke dalam kaleng yang  sudah tersedia.  Tidak hanya itu di dalam kaleng tersebut terdapat uang pecahan sebagai kembalian jika uang kembalian kurang Pembeli tinggal menuliskan berapa kekurangan uang kembalian dan alamat pada block note yang sudah tersedia. lalu pemilik kedai akan mengantarkan kekurangan itu sesuai dengan alamat yang tertera di Block Note. Sungguh hebat,  sistem kejujuran diaplikasikan di negara barat.
Kisah selanjutnya menceritakan wanita bercadar bernama Laila, sebagai pahlawan bagi Tutie Amaliah. Serta analogi gajah terbang dari Xiao Wei yang merupakan rekan tandem partner dengan Hanum.
Sebuah fakta yang mengejutkan yang diangkat dari buku ini, bahwa di gerbang gereja Katedral Palermo di Sicilia bertuliskan ayat pembukaan Al-Fatihah yang terukir dengan indah dan penuh wibawa.
Di sana, Ivano Meciar sang pemilik cerita terduduk menyesali kebenciannya terhadap negaranya Sicilia dan Roger of Sicily rajanya.
Buku ini diakhiri dengan epilog dari Hanum yang bercerita tentang pengalamannya ketika berumrah, ketika itu Hanum sedang berada di tengah kerumunan jamaah yang sedang thawaf, Hanum mencoba berdiri bergerak menuju Multazam, tiba-tiba melihat seorang nenek menghembuskan nafas terakhirnya di depan Multazam. Setelah melihat kejadian itu, Hanum ditarik oleh seseorang menjauh dari Multazam  dan ia langsung di bawa bersama teman-temannya di lantai dua. Tiba-tiba seorang perempuan datang menemuinya sambil memberikan sebuah pena Hanum bertanya “Untuk apa?“  “to write”. Jawab seorang perempuan itusebelum menghilang begitu saja di antara keramaian Jamaah Umrah.
Gaya bahasa yang digunakan merupakan gaya bahasa popular dan renyah, mudah dipahami oleh pembaca dari segala kalangan. Cerita ini sangat kaya bahasa karena menggunakan bahasa Indonesia, Inggris, Jerman dan Spanyol. Penggunaan berbagai bahasa ini membuat pembaca semakin mudah mengimaginasikan keadaan dan tempat yang tergambar dalam cerita. Dengan berbagai bahasa yang dipakai, pembaca pun dapat belajar menguasai bahasa tersebut, karena di dalamnya terdapat terjemahan bahasa Indonesia. Bagaikan kamus berjalan. Pengalaman inilah yang membuat tulisan menjadi menarik, inspiratif, dan menyentuh hati .
Buku ini memiliki beberapa kekurangan seperti pada bagian pengalaman yang ditulis oleh Wardatul Ula. Ada kesan cerita yang salah penempatan sehingga terkesan janggal dan datar. Bagian lainnya adalah ketika teman Hanum ingin diajari syahadat namun berakhir sampai di situ saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar